Saturday, February 28, 2015

Landasan Komunikasi Bisnis

KOMPONEN KOMUNIKASI BISNIS DAN ARUS INFORMASI KOMUNIKASI BISNIS

Komponen dasar Komunikasi[1]
1.      Pengirim pesan
Pengirim pesan adalah individu atau orang yang mengirim pesan. Pesan atau informasi yang akan dikirim berasal dari otak si pengirim pesan. Oleh sebab itu sebelum pengirim mengirim pesan, si pengirim harus menciptakan dulu pesan yang akan dikirimkannya. Menciptakan pesan adalah menentukan arti apa yang akan dikirimkan kemudian menyandi/encode arti tersebut ke dalam satu pesan. Sesudah itu baru dikirim melalui saluran.
2.      Pesan
Pesan adalah informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima. Pesan ini dapat berupa verbal maupun nonverbal pesan secara verbal dapat tertulis seperti surat, buku, majalah, memo, sedangkan pesan yang secara lisan dapat berupa, percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon, radio dan sebagainya. Pesan yang nonverbal dapat berupa isyarat, gerakan badan, ekpresi muka, dan nada suaru.
3.      Saluran adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si penerima. Channel yang biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya dan suaru yang dapat kita lihat dan dengar. Akan tetapi alat dengan apa cahaya atau suaru itu berpindah mungkin berbeda-beda. Misalnya bila dua orang berbicara tatap muka gelombang suara dan cahaya di udara berfungsi sebagai saluran. Tetapi bila pembicaraan itu melalui surat yang dikirimkan, maka gelombang cahaya sebagai saluran yang memungkinkan kita dapat melihat huruf pada surat tersebut. Kertas dan tulisan itu sendiri adalah sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Kita dapat menggunakan bermacam-macam alat untuk menyampaikan pesan seperti buku, radio, film, televise, surat kabar tetapi saluran pokoknya adalah gelombang suaru daan cahaya. Disamping itu kita juga dapat menerima pesaan melalui indera penciuman, alat pengecap dan peraba.
4.      Penerima pesan
Penerima pesan adalah yang menganalisis dan menginterpresentasikan isi pesan yang diterima. Tugas dari si penerima sudah dijelaskan sebelumnya pada bagian B.
5.      Balikan
Balikan adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan. Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim, pengirim akan dapat mengetahui apakah pean yang dikirimkan tersebut diinterpresentasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim. Bila arti pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim diinterpresentasikan sama oleh si penerima berati komunikasi tersebut efektif.

KOMPONEN KOMUNIKASI BISNIS[2] :
1.      Sumber (komunikator bisnis)
2.      Penyandian (pengurai sandi)
3.      Umpan balik/Umpan depan
4.      Saluran (channel)
5.      Konteks (context)
6.      Gangguan (noise)

Sumber (source) adalah pemrakarsa suatu pesan. Karena komunikasi bisnis melibatkan orang-orang yang berkomunikasi dengan orang lain dalam lingkungan organisasi, maka setiap orang menjadi sumber dari pesan-pesan tersebut. Proses komunikasi ini menjadi lebih rumit karena pada kenyataannya setiap sumber manusia adalah transceiver. Transceiver adalah sumber pengirim dan penerima pesan-pesan pada saat yang sama. Setiap sumber melakukan fungsi pengurai sandi (penerima) dan fungsi penyandi pada saat yang sama yaitu, setiap orang merumuskan dan mengirim pesan-pesan sambil merasakan dan memahami pesan-pesan tersebut.
Penyandian (Pengurai Sandi)  pada komunikasi, tindakan pemberian  arti simbol-simbol pada pemikiran misalnya, memutuskan kata-kata mana yang harus dikatakan atau ditulis disebut penyandian (encoding). Prosesnya adalah tindakan pemilihan simbol-simbol untuk pemikiran. Karena manusia cakap menggunakan semua pancainderanya, penyandi memilki bermacam-macam sandi untuk memilih dan menggabungkan ke dalam pengirim pesan. Menciptakan gelombang suara yang penuh arti adalah sandi yang tepat, yang pantas untuk penyandi dengan melalui suatu sumber menerjemahkan gelombang suara ke dalam pemikiran merupakan pengurai sandi. Fungsi sumber dan penerima adalah bersamaan, begitu pula dengan fungsi penyandian dan pengurai sandi.
Umpan balik/umpan depan sering serungkali melibatkan kombinasi pesan-pesan verbal dan nonverbal. Umpan balik tersusun berdasarkan informasi pesan-pesan yang dikirimkan sebelumnya, sedangkan umpan depan merupakan informasi mengenai pesan-pesan yang akan dikirimkan pada masa datang. Pesan-pesan umpan depan disusun untuk memberitahukan sesuatu kepada para pendengar mengenai isi pesan yang akan datang. Umpan depan meliputi pernyataan verbal, seperti “Tunggu, sampai anda mendengar hal ini” dan/atau indikator-indikator nonverbal, misalnya perubahan suasana hati. Kadang-kadang, tanpa kening berkerut merupakan perubahan dalam nada komunikasi. Komunikasi bisnis yang berhasil banyak bergantung kepada keefektifan dalam merasakan umpan balik disbanding dengan penggunaan dan pemahaman umpan depan yang meluas. Dengan kata lain, umpan balik adalah suatu hal yang esensial dan umpan depan adalah sesuatu yang fakultatif.
Saluran (channel) komunikasi adalah media tempat pesan-pesan disampaikan. Biasanya, digunakan lebih dari satu media. Ketika orang-orang berkomunikasi dalam lingkungan bisnis, mereka biasanya menggabungkan tampilan vocal (saluran pendengar) dan pandangan (saluran penglihatan). Sentuhan (saluran peraba), penciuman (saluran penciuman, dan perasa (saluran saraf) juga digunakan dalam saluran pesan dalam komunikasi.
Konteks. Seluruh komunikasi terjadi dalam suatu konteks (context) dari beberapa jenis.  Konteks fisik meliputi ruangan, objek nyata, pemadangan, dan sebagianya. Konsepsi konteks menurut sosio-psikologis meliputi factor-faktor, seperti status orang-prang yang terlibat dalam hubungan komunikasi, peran mereka, dan tingkat kesungguhannya. Dimensi pemilihan waktu atau suatu konteks meliputi hari dan rentetan peristiwa yang dirasakan yang terjadi sebelum peristiwa komunikasi.
Gangguan (noise) merupakan sifat yang melekat pada komuniksi. Gangguan mengubah dan mencanpuri penerimaan pesan. Penerimaan pesan ini mungkin behubungan dengan fisik psikologis, atau semantic. Gangguan fisik terdiri atas penglihatan dan suara eksternal, seperti cetakan buram, warna-warna yang membingungkan, suara mesin, dan sebagainya. Gangguan psikologis terjadi karena adanya prasangka dan penyimpangan dalam pikiran pengirim dan/atau penerima. Hal ini meliputi berbagai variable antarpersona, misalnya nilai-nilai, sikap, dan opini yang bertentangan. Gangguan semantik melibatkan kesalahpahaman arti yang di maksud karena seringkali kosa kata yang dipakai tidak memadai dan tidak lazim atau penggunaan bahasa teknik atau bahasa golongan tertentu.

ARUS INFORMASI KOMUNIKASI BISNIS
Meskipun semua organisasi harus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak dalam mencapai tujuannya, perlu diketahui bahwa pendekatan yang dipakai antara satu organisasi dengan organisasi yang lain dapat bervariasi atau berbeda-beda. Bagaimana arus informasi komunikasi terjadi dalam suatu organisasi ? Secara umum, arus informasi komunikasi dapat dibedakan menjadi saluran komunikasi formal dan saluran komunikasi non formal.[3]
1.      Saluran Komunikasi Formal
Dalam struktur organisasi garis, fungsional, maupun matriks, akan tampak berbagai macam posisi atau kedudukan masing-masing sesuai dengan batas tanggung jawab dan wewenangnya. Dalam kaitannya dengan proses penyampaian informasi dari manajer kepada bawahan ataupun dari manajer ke karyawan, pola transformasi informasinya dapat berbentuk komunikasi dari atas ke bawah, komunikasi dari bawah ke atas, komunikasi horizontal, dan komunikasi diagonal. Selanjutnya akan dibahas mengenai keterbatasan komunikasi formal (Montana, 1993; Greene, 1985).
a.      Komunikasi dari atas ke bawah
Secara sederhana, transformasi informasi dari manajer dalam semua level ke bawahan merupakan komunikasi dari atas ke bawah. Aliran komunikasi ini umumnya terkait dengan tanggung jawab dan kewenangan dalam suatu organisasi. Seorang manajer yang menggunakan jalur komunikasi ke bawah memiliki tujuan untuk menyampaikan informasi, mengarahkan, mengordinasikan, memotivasi, memimpin, dan mengendalikan berbagai kegiatan yang ada di bawah. Sebagai contoh, penyampaian pesan yang berasal dari manajer umu ke manajer produksi, kemudian ke bagian pabrik, selanjutnya baru sampai ke karyawan menggunakan saluran komunikasi yang cukup panjang dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman beromunikasi. Untuk memberikan gambaran yang lebih rinci tentang komunikasi dari atas ke bawah dalam suatu organisasi, lihatlah Gambar 1.1.

 Gambar 1.1 Komunikasi dari atas ke bawah

b.      Komunikasi dari Bawah ke Atas
Dalam struktur organisasi, komunikasi dari bawah ke atas berarti alur pesan yang disampaikan berasal dari bawah (karyawan) menuju ke atas (manajer). Pesan yang ingin disampaikan mula-mula berasal dari para karyawan yang selanjutnya disampaikan ke jalur yang lebih tinggi, yaitu ke bagian pabrik, manajer produksi, dan akhirnya ke manajer umum.
Kalau seorang bawahan memberikan informasi yang negative seperti munculnya kegagalan bidang pemasaran, kebocoran anggaran, menumpuknya hutang, dan lain-lain dalam suatu organisasi, berarti kinerja atau prestasi kerja yang ada di bagian atau bidang tersebut jelas tidak baik. Seorang bawahan umumnya tidak ingin prestasi kerjanya dinilai tidak berhasil atau gagal total, sehingga mereka memilih tidak melaporkan kegagalan tersebut sama sekali. Gambar 1.2 melukiskan alur komunikasi dari bawah ke atas.
Gambar 1.2 Komunikasi dari bawah ke atas

c.       Komunikasi Horizontal
Komunikasi Horizontal atau sering disebut juga dengan istilah komunikasi lateral adalah komunikasi yang terjadi antara bagian-bagian yang memiliki posisi sejajar/sederajat dalam suatu organisasi. Tujuan komunikasi horizontal antara lain untuk melakukan persuasi, mempengaruhi, dan memberikan informasi kepada bagian atau departemen yang memiliki kedudukan sejajar.
            Pada gambar 1.3 terlihat bagaimana terjadi komunikasi horizontal, yaitu komunikasi antara manajer pemasaran dengan manajer produksi, atau manajer produksi dengan manajer keuangan yang ditunjukan dengan garis penghubung terputus-putus. Komunikasi secara horizontal menjadi penting artinya manakala setiap bagian atau departemen dalam suatu organisasi memiliki tingkat saling ketergantungan yang cukup besar. Akan tetapi, jika masing-masing bagina dapat bekerja secara sendiri-sendiri tanpa harus bergantung pada bagian lainnya, komunikasi horizontal tidak sering atau minim dipakai.


Gambar 1.3 Komunikasi Horizontal

d.      Komunikasi Diagonal
Bentuk komunikasi yang satu ini memang agak lain dari beberapa bentuk komunikasi sebelumnya. Komunikasi diagonal melibatkan komunikasi antara dua tingkat (level) organisasi yang berbeda-beda. Contohnya adalah komunikasi formal antara manajer pemasaran dengan bagian pabrik, antara manajer produksi dengan bagian promosi, antara manajer produksi dengan bagian akuntansi, dan antara manajer keuangan dengan bagian penelitian. Deskripsi yang lebih rinci tentang bagaimana komunikasi diagonal dalam suatu organisasi dapat di lihat pada Gambar 1.4

Gambar 1.4 Komunikasi diagonal

e.       Keterbatasan Komunikasi Formal
Dilihat dari sudut pandang individual (perseorangan), komunikasi formal sering mebuat frustasi atau menjengkelkan bagi pihak tertentu, khususnya mengenai keterbatasan untuk masuk ke dalam proses pengambilan keputusan. Dalam struktur organisasi yang besar, untuk dapat berkomunikasi dengan manajer puncak harus terlebih dahulu melalui lapisan manajer yang ada di bawahannya. Artinya banyak jalur yang harus dilalui dapat berkomunikasi secara langsung dengan manajer puncak.
Kemudian, bagaimana jika dipandang dari sudut pandang perusahan? Dari sudut pandang perusahaan, masalah terbesar dengan saluran komunikasi formal adalah kemungkinan munculnya distorsi atau gangguan penyampaian informasi ke level yang lebih tinggi, karena setiap keterkaitan dalam jalur komunikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Setiap pesan yang mengalir dari atas maupun bawah memungkinkan adanya perubahan terhadap pesan aslinya. Sebagai akibatnya, bawahan mungkin menerima suatu informasi yang kabur dari atasannya begitu pula para atasan (manajer puncak) akan memperoleh suatu gambaran yang tidak lengkap atau kurang pas terhadap apa yang sebenarnya terjadi di tingkat bawah. Struktur organisasi yang mendatar (flat) dengan tingkatan organisasi yang lebih sedikit, dan lebih banyak rentang kendalinya (spam of control) akan dapat membantu mengurangi terjadinya distorsi. Struktur organisasi mendatar ditampilkan dalam Gambar 1.5.
Gambar 1.5 Struktur organisasi mendatar

2.      Saluran Komunikasi Informal
Bagan organisasi formal akan dapat menggambarkan bagaimana informasi yang ada ditransformasikan dari satu bagian ke bagian yang lainnya sesuai dengan jalur hierarki yang ada. Namun, dalam praktik tampaknya garis-garis dan kotak-kotak yang tergambar pada struktur organisasi tidak mampu mencegah orang-orang dalam suatu organisasi untuk saling bertukar informasi antara orang yang satu dengan orang yang lain. Oleh karena itu, keberadaan jaringan komunikasi informal dalam suatu organisasi tidak dapat dielakkan. Jaringan ini dapat pula digunakan oleh para manajer untuk memonitor para karyawan dalam melakukan tugasnya.
Dalam jaringan komunikasi informal, orang-orang yang ada dalam suatu organisasi, tanpa memedulikan jenjang hierarki, pangkat dan kedudukan/jabatan, dapat berkomunikasi secara luas (lihat gambar 1.6). Meskipun hal-hal yang mereka perbincangkan biasanya bersifat umum, seperti mengobrol tentang humor yang baru didengar, kadang kala mereka juga membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan situasi kerja yang ada dalam organisasinya. Lebih lanjut, banyak orang lebih percaya desas-desus atau rumor didapat dari komunikasi informal sebagai sumber informasi dalam suatu organisasi.
Gambar 1.6 Saluran komunikasi informal

Referensi :
Muhammad, Arni. 2007. Komunikasi organisasi. Jakarta : Bumi Aksara.
Curtis, B. James J. Floye. Winsor, Jerry L. 1996. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Pengantar: Yuyun Wirasasmita. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis (edisi ketiga). Jakarta : Erlangga




[1] Muhammad, Arni. 2007. Komunikasi organisasi. Jakarta : Bumi Aksara. Hlm. 17-18
[2] Curtis, B. James J. Floye. Winsor, Jerry L. 1996. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Pengantar: Yuyun Wirasasmita. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[3] Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis (edisis ketiga). Jakarta : Erlangga. Hlm. 39

No comments:

Post a Comment